Oleh: Rizki FaturohmanMahasiswa Universitas Pamulang Serang, Program Studi Administrasi Negara
Sungai Cibanten merupakan salah satu bagian penting dari lingkungan Kota Serang. Namun, kondisi sungai yang masih dipenuhi sampah menunjukkan bahwa persoalan pengelolaan sampah di kota ini belum sepenuhnya selesai.
Sampah yang menumpuk di sungai bukan hanya mengganggu pemandangan. Lebih dari itu, tumpukan sampah dapat menghambat aliran air dan meningkatkan risiko persoalan lingkungan, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Pada Juni 2026, sekitar 15 ton sampah berhasil dievakuasi dari aliran Sungai Cibanten di wilayah Kelurahan Unyur, Kota Serang, dan diangkut ke TPA Cilowong. Sampah tersebut didominasi limbah rumah tangga, plastik, dan styrofoam. Pembersihan dilakukan melalui kolaborasi pemerintah, relawan, komunitas, dan Pramuka.
Jumlah tersebut tentu bukan angka yang sedikit. Banyaknya sampah yang harus diangkut dari satu aliran sungai seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Persoalan ini tidak cukup dilihat hanya sebagai masalah kebersihan, tetapi juga sebagai persoalan pengelolaan lingkungan dan tata kelola sampah.
Selama ini, ketika sampah memenuhi sungai, solusi yang paling terlihat adalah kegiatan pembersihan. Pemerintah bersama petugas, relawan, dan masyarakat turun langsung mengangkat sampah. Langkah tersebut tentu penting dan patut diapresiasi.
Namun, membersihkan sampah yang sudah menumpuk tidak akan menyelesaikan persoalan apabila sampah yang sama kembali masuk ke sungai setelah kegiatan selesai.Di sinilah persoalan pengelolaan sampah perlu dilihat secara lebih luas.
Masyarakat memang memiliki tanggung jawab untuk tidak membuang sampah sembarangan. Akan tetapi, pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat mempunyai sistem pengelolaan sampah yang mudah diakses, mulai dari tempat pembuangan, pengangkutan, pengawasan, hingga penegakan aturan.Jika persoalan ini hanya mengandalkan kesadaran masyarakat, penyelesaiannya akan sulit dilakukan secara berkelanjutan. Sebaliknya, jika hanya mengandalkan pemerintah dan petugas kebersihan, masyarakat juga akan terus bergantung pada kegiatan pembersihan.
Karena itu, dibutuhkan kerja sama yang nyata antara pemerintah dan masyarakat.Pemerintah Kota Serang sendiri telah melakukan sejumlah upaya melalui kegiatan kebersihan Sungai Cibanten dan imbauan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar sempadan sungai agar tidak membuang sampah ke aliran sungai. Pada 19 Juni 2026, Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang bersama perangkat daerah dan masyarakat juga kembali melaksanakan aksi bersih Sungai Cibanten dalam rangka Gerakan Indonesia Asri.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah di Sungai Cibanten membutuhkan penanganan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika tumpukan sampah sudah mengganggu aliran sungai.Sungai Cibanten seharusnya menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan tindakan sesaat.
Mengangkut 15 ton sampah memang merupakan langkah nyata. Namun, ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah ketika jumlah sampah yang masuk ke sungai dari waktu ke waktu semakin berkurang.Artinya, perhatian tidak boleh hanya diberikan kepada hilir ketika sampah sudah menumpuk. Pengawasan terhadap sumber sampah juga perlu diperkuat. Edukasi masyarakat harus berjalan, fasilitas pengelolaan sampah harus tersedia dan mudah digunakan, sementara aturan yang telah dibuat perlu diterapkan secara konsisten.
Pada akhirnya, menjaga Sungai Cibanten bukan hanya tugas pemerintah dan bukan pula semata-mata kesalahan masyarakat.Pemerintah perlu membangun sistem pengelolaan sampah yang konsisten dan mudah diakses. Di sisi lain, masyarakat harus memiliki kesadaran untuk menggunakan sistem tersebut dengan baik serta menjaga lingkungan di sekitarnya.Sungai yang bersih tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan bersih-bersih. Yang lebih penting adalah memastikan sampah tidak kembali masuk ke sungai.
Jika hal tersebut dapat dilakukan secara bersama-sama, Sungai Cibanten tidak hanya menjadi sungai yang dibersihkan ketika dipenuhi sampah, tetapi juga dapat menjadi contoh bagaimana pemerintah dan masyarakat bersama-sama membangun pengelolaan lingkungan yang lebih baik di Kota Serang.
