Bangun Personal Branding, Prodi Sistem Informasi Unpam Gelar Pelatihan Pembuatan Website Portofolio di SMK Pasundan 1 Kota Serang

Serang, redaksinewa.info – Mahasiswa Universitas Pamulang Serang, Program Studi Sistem Informasi, melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan mengusung tema “Pelatihan Pembuatan Website Portofolio untuk Meningkatkan Personal Branding” bertempat di SMK Pasundan 1 Kota Serang.

Kegiatan ini diketuai oleh Indra Maulana dengan empat anggota tim, yaitu Amalia Sofa, Dzaky Al-Ghifary, Gina Novianti, dan Risnayanti. Pelatihan diikuti oleh 28 siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) yang antusias mengikuti rangkaian materi dan praktik.

Acara dibuka langsung oleh Kepala SMK Pasundan 1 Kota Serang, Bapak Wakhid Risanto, ST., S.Pd., MM., yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Beliau menegaskan bahwa kemampuan membuat website portofolio merupakan keterampilan penting bagi siswa sebagai bentuk kesiapan memasuki dunia kerja dan era digital.

Kegiatan PKM ini juga didampingi oleh Dosen Pembimbing, Ibu Shopi Nurul Hasanah, S.Kom., M.Kom., serta dihadiri oleh perwakilan guru SMK Pasundan 1 Kota Serang. Dalam arahannya, beliau menjelaskan bahwa personal branding berbasis website mampu membantu siswa menampilkan kompetensi, karya, dan pengalaman secara profesional.

Selama sesi pelatihan, peserta dibimbing untuk memahami dasar struktur website, mengenal konsep portofolio digital, serta praktik langsung membuat halaman portofolio sederhana. Para siswa tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pengenalan materi hingga praktik pembuatan desain website.

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para siswa mampu membangun citra diri yang lebih profesional serta memiliki media portofolio yang dapat digunakan untuk mendaftar magang, melanjutkan pendidikan, maupun memasuki dunia kerja.

Kegiatan PKM berjalan lancar dan mendapat respons positif baik dari peserta maupun pihak sekolah. Pelatihan ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam meningkatkan kualitas kompetensi siswa di era digital.(Indra Maulana)

180 peserta ikuti Tailor Made Training Polda Banten

Serang, redaksinews.info – Polda Banten kembali membuka Tailor Made Training (TMT) Gelombang V Tahun 2025 yang bertempat di Balai Latihan Poliran Polda Banten pada Kamis (20/11).

Kegiatan ini dipimpin Kapolda Banten Irjen Pol Hengki, hadir dalam kegiatan terus Pejabat Utama Polda Banten, Kepala Balai Pelatihan Vokasi dan Peningkatan Produktivitas Ady Nugroho, serta Instruktur Pelatihan.

Dalam sambutannya, Kapolda Banten menyampaikan bahwa pada hari ini dilaksanakan Tailor Made Training Gelombang V.

“Program TMT ini merupakan pelatihan berbasis kebutuhan riil di lapangan, yang dirancang dan disesuaikan dengan potensi wilayah sasaran. Pelatihan ini ditujukan bagi masyarakat wilayah hukum Polda Banten, terutama bagi mereka yang belum memiliki pekerjaan atau membutuhkan peningkatan keterampilan produktif untuk memperoleh lapangan kerja,” ujar Kapolda Banten.

Selanjutnya, Irjen Pol Hengki menjelaskan bahwa Berdasarkan data Badan Pusat Statistik jumlah pengangguran di Provinsi Banten mencapai 412.360 jiwa.

“Jumlah penduduk Provinsi Banten sebanyak 11,08 juta jiwa. Pada Agustus 2025, jumlah pengangguran mencapai 412.360 jiwa dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 6,64%, menempati peringkat ke-4 tertinggi secara nasional,” jelas Kapolda Banten.

Dengan kondisi tersebut Polda Banten melalui program Poliran bekerja sama dengan Balai Besar Pelatihan Vokasi Kota Serang untuk melatih dan memberdayakan masyarakat agar memiliki keterampilan kerja.

Adapun pelatihan yang akan Dilaksanakan Meliputi: Bidang Pelatihan Smart Farming (Hydroponic Automatic System), Bidang Sistem Smart Building (Pemasangan Sistem Integrasi Bangunan Cerdas), Bidang Pelatihan Smart Creative IT Skill (Pembuatan Konten Sosial untuk Media Sosial) dan Bidang Pelatihan Smart Creative IT (Optimalisasi Pemasaran melalui Media Sosial)

Kemudian, Bidang Pelatihan Smart Creative IT Skill (Operasional Tools Generative AI untuk Konten Digital dan Bisnis) serta Bidang Pelatihan Smart Manufacturing (Penerapan Predictive Maintenance untuk Mesin Produksi)

Irjen Pol Hengki menambahkan bahwa Tailor Made Training kali ini diikuti oleh 180 peserta. “Terdiri atas 60 peserta reguler dan 120 peserta dari keluaran TMT Gelombang I sampai IV yang akan menerima sosialisasi tentang pekerjaan ke luar negeri. Pelatihan akan dilaksanakan selama 8 hari, mulai tanggal 20 sampai dengan 28 November 2025,” tambahnya.

Diakhir, Kapolda Banten menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kota Serang serta seluruh instansi terkait.

“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kota Serang serta seluruh instansi terkait yang telah memberikan dukungan, terutama dalam penyediaan instruktur dan materi pelatihan yang aplikatif serta sesuai dengan kebutuhan lapangan,” tutupnya.

Gubernur Andra Soni Dukung Proyek Pengembangan Kawasan Royal oleh Pemkot Serang

Serang, redaksinews.info – Gubernur Banten Andra Soni memberikan apresiasi dan mendukung langkah Pemkot Serang dalam menata kawasan Royal menjadi pusat ekonomi sekaligus ruang publik yang lebih tertata. Jawaban Royal sebagai pusat ekonomi akan diubah menjadi Royal Baroe dan menjadi prioritas untuk memperkuat fungsi ibu kota provinsi.

“Upaya yang dilakukan oleh Wali Kota Serang dalam penataan Royal dengan konsep Royal Baroe akan menjadi salah satu ikon Kota Serang ke depan,” ujar Andra saat meninjau Royal Baroe Kota Serang, Rabu.

Ia menegaskan bahwa pembangunan kawasan tersebut merupakan kebutuhan jangka panjang. Apalagi, ke depan akan menjadi pusat ekonomi dan perbelanjaan.

“Kami mensupport, karena ini sudah menjadi catatan lama agar pusat ekonomi di Kota Serang bisa terus tumbuh dan berkembang,” katanya.

Andra Soni juga menekankan pentingnya pembangunan yang terencana dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dalam kunjungan tersebut, ia melihat langsung antusiasme warga, pedagang dan pelaku usaha yang mulai merasakan perubahan signifikan di kawasan Royal.

“Mereka kini menunjukkan optimisme bahwa kehidupan akan lebih baik karena pemerintah daerah terus melakukan perbaikan,” tuturnya.

Wali Kota Serang Budi Rustandi menambahkan, progres pembangunan Royal Baroe telah mencapai 70 persen dan ditargetkan selesai untuk dibuka pada Desember mendatang. Ia menyoroti pentingnya penataan ini serta keterlibatan pedagang agar estetika kawasan tetap terjaga.

“Hari ini Gubernur mengecek langsung di lapangan dan beliau ingin pembangunan ini sukses serta bermanfaat untuk masyarakat,” kata Budi.

Penataan kawasan ibu kota Provinsi Banten merupakan salah satu program pembangunan provinsi pada 2026. Dukungan dilakukan melalui alokasi anggaran sebesar Rp 5 miliar dari APBD Banten untuk melanjutkan jalur Royal Baroe menuju Alun-Alun Kota Serang pada 2026.

Relevansi Pemikiran Transformasi Sosial Mansour Fakih dalam Konteks Pembangunan Kota Serang

Serang, Media redaksinews.info/ | Gagasan tokoh pemikir Indonesia Mansour Fakih tentang \”Transformasi sosial \” kini kembali relevan dalam konteks pembangunan Daerah, terutama di Kota Serang, Provinsi Banten. Mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang, Audry Maulidia, menyoroti pentingnya penerapan konsep pemberdayaan masyarakat ala Mansour Fakih sebagai langkah menuju pembangunan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Dalam tulisannya berjudul “Relevansi Pemikiran Transformasi Sosial Mansour Fakih dalam Konteks Pembangunan Kota Serang”, Audry menjelaskan bahwa selama ini arah pembangunan di Kota Serang masih didominasi oleh infrastruktur fisik, sementara pemberdayaan masyarakat belum sepenuhnya menjadi prioritas utama.

“Masih terlihat ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat, terutama di wilayah pinggiran Kota Serang,” tulis Audry.

Menurutnya, pemikiran Mansour Fakih yang menekankan pemberdayaan dari bawah (bottom-up) serta pendidikan kritis sangat relevan untuk diadaptasi oleh pemerintah Daerah. Masyarakat perlu dibekali dengan kesadaran kritis agar mampu menjadi subjek aktif pembangunan, bukan sekadar objek dari kebijakan.

Kesetaraan Gender sebagai Kunci Transformasi Sosial

Selain pemberdayaan masyarakat, Audry juga menegaskan pentingnya penerapan analisis gender dalam setiap kebijakan publik di Kota Serang. Ia menilai bahwa perempuan masih menghadapi berbagai bentuk ketimpangan dalam akses pendidikan, ekonomi, dan partisipasi politik.Pemerintah daerah perlu menerapkan perspektif kesetaraan gender secara nyata, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.

Pemikiran gender yang diperjuangkan oleh Mansour Fakih dapat menjadi landasan penting dalam menciptakan ruang partisipasi yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan dan kelompok rentan lainnya.

Kolaborasi untuk Mewujudkan Pembangunan yang Berkeadilan

Dalam konteks pembangunan daerah, transformasi sosial membutuhkan keterlibatan semua pihak. Audry menegaskan bahwa pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan warga harus bersinergi membangun kesadaran kolektif untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.

Pemikiran kritis buah pemikiran mahasiswa seperti ini sangat perlu diapresiasi dan di kembangkan. Kajian tersebut harus dinilai sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap isu sosial di lingkungannya.

“Pemikiran kritis mahasiswa seperti ini penting agar dunia akademik tidak terpisah dari realitas sosial dan kebutuhan masyarakat,”

Sementara itu, bagi Pemerintah itu sendiri, Penelitian dan kajian ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih partisipatif dan berkelanjutan.

Membangun Kota Serang yang Inklusif dan Berkelanjutan

Pemikiran \”Transformasi Sosial Mansour Fakih\”  memberikan arah baru bagi pembangunan Kota Serang agar lebih berpihak pada masyarakat dan berkeadilan. Dengan perubahan paradigma dari pembangunan yang didominasi para Elit, menjadi pembangunan partisipatif, diharapkan Kota Serang dapat menjadi contoh kota yang tumbuh dengan nilai kemanusiaan dan kesetaraan.


Penulis: Audry Maulidia
Universitas Pamulang Kampus Serang
Dosen Pembimbing: Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.
Kepala Program Studi: Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.I.P., M.Sos.
Program Studi: Administrasi Negara.

Pemasangan Stiker “Keluarga Miskin” oleh Dinas Sosial Kabupaten Kepahiang Berujung Pengunduran Diri Penerima Bansos

Kabupaten Kepahiang, Media redaksinews.info/ | Pemerintah Kabupaten Kepahiang melalui Dinas Sosial berencana memasang stiker bertuliskan “Keluarga Miskin” pada rumah-rumah penerima bantuan sosial (Bansos) sebagai bagian dari langkah verifikasi data penerima. Namun, langkah ini memunculkan kontroversi dan pengunduran diri dari beberapa penerima manfaat.

Menurut laporan, sejumlah warga yang selama ini memperoleh Bansos memilih mengundurkan diri ketika petugas sosial hendak menempel stiker di rumah mereka. Salah satu warga menolak pemasangan dengan alasan bahwa kondisi rumahnya sudah layak, bahkan memiliki mobil dan rumah yang cukup bagus , sehingga merasa label “keluarga miskin” tidak sesuai.

Latar Belakang

Langkah ini dilatar belakangi upaya Dinas Sosial untuk memperketat ketepatan sasaran program Bansos. Program pemasangan stiker merupakan bagian dari verifikasi lapangan guna memastikan bahwa data penerima bantuan sosial benar-benar tertuju kepada keluarga yang memenuhi kriteria.

Kronologi

Sejak awal Oktober 2025, tim verifikasi dari Dinas Sosial Kabupaten Kepahiang mulai mendatangi rumah-rumah penerima manfaat dan memasang stiker “Keluarga Miskin” di bagian luar rumah.

Beberapa rumah yang dilaporkan cukup layak dan memiliki aset signifikan tetap dicatat sebagai penerima bantuan dan menjadi target pemasangan stiker.

Atas pemasangan stiker ini, sebagian warga memilih menyatakan mundur sebagai penerima manfaat agar stiker tidak ditempel di rumah mereka karena merasa malu atau merasa tidak layak mendapat label “keluarga miskin”.

Dampak yang Terjadi

Pengunduran diri penerima manfaat: Beberapa keluarga memilih untuk melepas status sebagai penerima Bansos agar rumahnya tidak dipasangi stiker yang dianggap mencoreng harga diri.

Kritik sosial: Kebijakan pemasangan stiker dianggap menimbulkan stigma bagi penerima Bansos, khususnya bagi mereka yang merasa telah mampu atau memiliki aset yang layak.

Dinsos pasang stiker “Keluarga Miskin” di rumah penerima Bansos. “Kami malu, rumah kami tidak miskin,” ujar warga yang memilih mundur dari daftar penerima.

Validasi data terganggu: Karena penolakan pemasangan stiker oleh beberapa penerima, proses verifikasi dan pengumpulan data lapangan menjadi kurang lancar.

Pernyataan Resmi

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kepahiang menyatakan bahwa langkah ini masih dalam tahap evaluasi dan belum sepenuhnya diterapkan secara massal. Ia menegaskan bahwa tujuan utama adalah agar program bantuan sosial mencapai keluarga yang benar-benar membutuhkan. Namun, ia juga mengakui bahwa aspek sensitivitas sosial dan komunikasi publik perlu diperbaiki.

Rekomendasi Langkah Ke Depan

  1. Melakukan sosialisasi lebih intensif kepada masyarakat mengenai tujuan, mekanisme, dan arti pemasangan stiker agar tidak menimbulkan salah paham atau stigma negatif.
  2. Meninjau ulang aspek estetika dan penempatan stiker , mungkin menggunakan label atau tanda yang lebih halus agar tidak mencederai kesejahteraan psikologis penerima manfaat.
  3. Memastikan verifikasi data melalui metode yang lebih transparan, objektif, dan melibatkan partisipasi penerima manfaat, agar tidak muncul kasus penerima yang merasa tidak layak tetapi tetap terdaftar.
  4. Membangun mekanisme pengaduan terbuka bagi masyarakat yang merasa terjadi ketidaksesuaian data penerima Bansos atau merasa terlabel secara tidak adil.